Senin, 28 Oktober 2013


Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.

 
TEKNIK / PROSES KONSELING

Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 190), konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau mengubah perilaku. Konselor  berperan membantu dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.Mengenai metode konseling, Krumboltz mengkategorikan menjadi empat pendekatan yaitu :

1.  Operant learning Hal yang paling penting adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki. Konselor hendaknya dapat memilih tindakannya agar dapat memberikan penguatan terhadap perilaku klien. Disamping itu konselor diharapkan dapat memanfaatkan situasi diluar klien untuk memperkuat perilaku klien yang dikehendaki. Yang harus diperhatikan adalah saat yang tepat untuk memberikan penguatan baik dalam wawancara maupun di luar wawancara. Dalam penguatan ini ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu:
   a.  Penguatan yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien
b b. Penguatan hendaknya dilaksanakan secara sistematis
c c. Konselor harus mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan
d d. Konselor harus dapat merancang perilaku yang memerlukan penguatan

2.      Untative learning / social modeling
Diterapkan oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan model oleh klien. Model-model perilaku adaptif dapat dalam bentuk rekaman, pengajaran perprogram, video, film, orang atau biografi. Model-model yang dipilih hendaknya merupakan suatu subyek yang berprestise, kompeten, dapat diketahui, atraktif (menarik),dan berpengaruh. Semua akan berpengaruh kepada klien apabila memiliki kemiripan dengan klien.
Cognitive learning Pembelajaran kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara konselor dengan klien, dan bermain peran. Metode ini lebih banyak menekankan aspek perubahan kognitif klien dalam upaya membantu klien memecahkan masalahnya.
Adapun terknik-teknik yang biasa digunakan dalam keempat pendekatan metode di atas adalah antara lain : desentisisasi sistematis, metode latihan rileks, teknik-teknik penguatan, pembuatan model restrukturing kognitif, penghentian pikiran, latihan ketegasan, latihan keterampilan sosial, program manajemen diri, pengulangan perilaku, latihan khusus, teknik-teknik terapi multimodal, tugas-tugas pekerjaan rumah.
4.      Emotional learning pembelajaran emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan. Pelaksanaannya dilakukan dalam situasi rileks dengan menghadirkan rangsangan yang menimbulkan kecemasan bersama suatu rangsangan lain yang menyenangkan. Dengan cara itu maka kecemasan dapat berkurang dan akhirnya dapat dihilangkan.
Penggunaan teknik-teknik oleh konselor behavioral tergantung kepada berbagai variabel, antara lain : kelebihan dan perilaku klien, macam masalah klien yang memerlukan bantuan, macam dan nilai penguatan yang tersedia dalam lingkungan klien, orang lain yang mempunyai artti tertentu bagi kehidupan klien dan dapat membantu konselor dalam meningkatkan perubahan perilaku yang dikehendaki.
Dalam kegiatan konseling behavior tidak ada suatu teknik konseling yang selalu harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti dengan teknik yang baru. Krum boltz dan Thoresen ( dikutip dalam Huber & milman dalam Corey, 2007 ; 207 ) mengatakan bahwa tidak ada pembatasan – pembatasan atas teknik – teknik yang bisa dicoba oleh para konselor perilaku kecuali, tentunya , pembatas etis. Eksperimentasi adalah bagian yang esensial dari tugas konselor. Dengan demikian tidak terdapat daftar tentangv teknik-teknik yang direkomendasikan untuk digumakan oleh konselor perilaku.
Meskipun tidak ada daftar khusus yang disetujui oleh para konselor perilaku tentang teknik-teknik konselingnya, namun teknik-teknik utama yang umum digunakan adalah : desensitisasi sistematik, terapi implosive, latihan asertif, terapi aversi, dan pengondisian operan.
Penjelasan singkat beberapa teknik tersebut sebagai berikut ( Corey,2007; Willis,2004 : Goldstain, 19973):
 
Desensitisasi sistematik (systematic desensitization)Teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku neurotic adalah ekspresi dari kecemasan. Respon terhadap kecemasan itu dapat dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistic. Perangsangan yang menimbulkan kecemasan secara berulang-ulang disndingkan dengan keadaan relaksasi sehingga hubungan antara rangsangan dengan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi. Teknik ini bermaksud mengajar konseli untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami konseli. Teknik ini tak dapat berjalan tanpa teknik relaksasi. Dalam proses konseling, konselor diakjar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman-pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan atau mengecewakan.
Situasi yang dihadirkan disusun secara sistematis dari yang kurang mencemaskan hingga yang palibng mencemaskan. Corey (2007) menjelaskan bahwa pelaksanaan teknik ini dapat mengikuti prosedur berikut :
·        Analisis perilaku yang menimbulkan kecemasan
·        Menyusun hierarki atau jejaring – jejaring situasi yang menimbulakan kecemasan dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan konseli
·        Memberi latihan relaksasi otot-otot yang dimulai dari lengan hingga oto kaki. Kaki konseli diletakan diatas bantal atau kain wol. Secara terinci relaksasi otot dimulai dari lengan , kepala kemudian leher dan bahu, bagian belakang,perut dan dada , dan kemudian anggota bagian bawah
·        Konselin diminta membayangkan situasi yang menyenangkan seperti dipantai, ditengah taman yang hijau dan lain-lain.
·        Konseli disuruh memejamkan mata , kemudian disuruh membayangkan situasi yang kurang mencemaskan. Bila konseli sanggup tanpa cemas atau gelisah,berarti situasi tersebut dapat diatasi konseli. Demikian seterusnya hingga ke situasin yang paling mencemaskan.
·        Bila pada suatu situasi konseli cemas dan gelisah, maka konselor memerintahkan konseli agar membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan kecemasan yang baru terjadi.
·        Menyusun hierarki atau jenjang kecemasan harus bersama konseli dan konselor menuliskanya di kertas
2.      Terapi implosif dan pembanjiran
Teknik-teknik pembanjiran berlandaskan paradigm mengenai penhapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian penguatan. Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi sistematik dalam arti bahwa pada teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengondisisan baik maupun tingkatan kecemasan. Konselor memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan, konseli membayangkan situasi, dan konselor berusaha mempertahankan kecemasan konseli.
3.      Latihan Asertif ( Asertive Learning)
Latihan Asertif merupakan teknik dalam konseling perilaku yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Sebagai contoh, ingin marah, tapi tetap berespon manis. Assertive training adalah suatu teknik untuk membantu konseli dalam hal-hal berikut:
·        Tidak dapat menyatakan kemarahannya atau kejengkelannya
·        Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari padanya
·        Mereka yamg mengalami kesulitan dalam berkata “tidak”
·        Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya.
·        Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyataksi pendapat dan pikirannya
Ketika menjalani kegiatan assertive training konselor berusaha memberikan keberanian kepada konseli dalam mengatasi kesulitan terhadap oramg lain. Pelaksanaan teknik ini ialah role playing( bermain peran ). Konselor , misalnya , berperan sebagai atasan yang galak dan konseli sebagai bawahannya. Kemudian di balik, konseli menjadi atasan yang galak dan konselor menjadi bawahan yamh mampu dan berani mengatakan suatu kebenaran. Hal ini memang bertentangan dengan perilaku konseli selama ini, dimana jika ia dimarahi atasa duam saja, walaupun dalam batinnya ingin mengatakan bahwa ia benar.

4.      Terapi Aversi (Aversion therapy)
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku konseli yang negative dan memperkuat perilaku yang positif. Hukuman bisa dengan kejutan listrik, atau memberi ramuan yang membuat orang muntah. Secara sederhana, anak yang suka marah dihukum dengan mengabaikan atau membiarkannya, tanpa meresponnya. Perilaku maladjustive diberi kejutan listrik, misalnya anak yang suka berkata berbohong. Perilaku homoseksual dihukum dengan member pertunjukan film yang disenanginya lalu dilistrik tangannya dan listriknya mati.

5.      Pekerjaan Rumah ( home – work )
Pekerjaan rumah merupakan suatu kegiatan latihan bagi konseli yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya ialah dengan member tugas rumah untuk satu minggu. Misalnya tugas konseli adalah tidak menjawab jika dimarahi ibu. Konseli menandai hari apa ia menjawab dan hari apa ia tak menjawab.jika selama seminggu ia tak menjawab selama lima hari , berarti ia diberi lagi tugas tambahan selama tujuh hari tak menjawab jika dimarahi. Pekerjaan rumah terus diberiksn hingga tujuan konseling atau perbaikan perilaku yang dikehendaki tercapai.

Pendekatan perilaku ini telah diterapkan secara luas pada terapi individual dan kelompok, lembaga-lembaga, sekolah-sekolah, dan situai belajar lainnya. Terapi perilaku adalah pendekatan pragmatis yang berlandaskan kesahihan eksperimental atas hasil-hasil. Kemajuan atau kegagalan bisa ditaksir, dan teknik-teknik baru yang bisa dikembangkan