Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar. Pada dasarnya, proses konseling merupakan suatu penataan proses atau pengalaman belajar untuk membantu individu mengubah perilakunya agar dapat memecahkan masalahnya.
TEKNIK / PROSES KONSELING
Menurut Krumboltz dan Thoresen (Shertzer & Stone, 1980, 190), konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.Mengenai metode konseling, Krumboltz mengkategorikan menjadi empat pendekatan yaitu :
1. Operant learning Hal yang paling penting adalah penguatan (reinforcement) yang dapat menghasilkan perilaku klien yang dikehendaki. Konselor hendaknya dapat memilih tindakannya agar dapat memberikan penguatan terhadap perilaku klien. Disamping itu konselor diharapkan dapat memanfaatkan situasi diluar klien untuk memperkuat perilaku klien yang dikehendaki. Yang harus diperhatikan adalah saat yang tepat untuk memberikan penguatan baik dalam wawancara maupun di luar wawancara. Dalam penguatan ini ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu:
a. Penguatan yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien
Pendekatan perilaku ini telah diterapkan secara
luas pada terapi individual dan kelompok, lembaga-lembaga, sekolah-sekolah, dan
situai belajar lainnya. Terapi perilaku adalah pendekatan pragmatis yang
berlandaskan kesahihan eksperimental atas hasil-hasil. Kemajuan atau kegagalan
bisa ditaksir, dan teknik-teknik baru yang bisa dikembangkan
a. Penguatan yang diterapkan hendaknya memiliki cukup kemungkinan untuk mendorong klien
b b. Penguatan hendaknya
dilaksanakan secara sistematis
c c. Konselor harus
mengetahui kapan dan bagaimana memberikan penguatan
d d. Konselor harus dapat
merancang perilaku yang memerlukan penguatan
2. Untative learning /
social modeling
Diterapkan
oleh konselor dengan merancang suatu perilaku adaptif yang dapat dijadikan
model oleh klien. Model-model perilaku adaptif dapat dalam bentuk rekaman,
pengajaran perprogram, video, film, orang atau biografi. Model-model yang
dipilih hendaknya merupakan suatu subyek yang berprestise, kompeten, dapat
diketahui, atraktif (menarik),dan berpengaruh. Semua akan berpengaruh kepada
klien apabila memiliki kemiripan dengan klien.
Cognitive learning Pembelajaran
kognitif merupakan metode yang berupa pengajaran secara verbal, kontrak antara
konselor dengan klien, dan bermain peran. Metode ini lebih banyak menekankan
aspek perubahan kognitif klien dalam upaya membantu klien memecahkan
masalahnya.
Adapun
terknik-teknik yang biasa digunakan dalam keempat pendekatan metode di atas
adalah antara lain : desentisisasi sistematis, metode latihan rileks,
teknik-teknik penguatan, pembuatan model restrukturing kognitif, penghentian
pikiran, latihan ketegasan, latihan keterampilan sosial, program manajemen
diri, pengulangan perilaku, latihan khusus, teknik-teknik terapi multimodal,
tugas-tugas pekerjaan rumah.
4. Emotional learning pembelajaran
emosional diterapkan pada individu yang mengalami suatu kecemasan.
Pelaksanaannya dilakukan dalam situasi rileks dengan menghadirkan rangsangan
yang menimbulkan kecemasan bersama suatu rangsangan lain yang menyenangkan.
Dengan cara itu maka kecemasan dapat berkurang dan akhirnya dapat dihilangkan.
Penggunaan
teknik-teknik oleh konselor behavioral tergantung kepada berbagai variabel,
antara lain : kelebihan dan perilaku klien, macam masalah klien yang memerlukan
bantuan, macam dan nilai penguatan yang tersedia dalam lingkungan klien, orang
lain yang mempunyai artti tertentu bagi kehidupan klien dan dapat membantu
konselor dalam meningkatkan perubahan perilaku yang dikehendaki.
Dalam
kegiatan konseling behavior tidak ada suatu teknik konseling yang selalu harus
digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti
dengan teknik yang baru. Krum boltz dan Thoresen ( dikutip dalam Huber &
milman dalam Corey, 2007 ; 207 ) mengatakan bahwa tidak ada pembatasan –
pembatasan atas teknik – teknik yang bisa dicoba oleh para konselor perilaku
kecuali, tentunya , pembatas etis. Eksperimentasi adalah bagian yang esensial
dari tugas konselor. Dengan demikian tidak terdapat daftar tentangv
teknik-teknik yang direkomendasikan untuk digumakan oleh konselor perilaku.
Meskipun
tidak ada daftar khusus yang disetujui oleh para konselor perilaku tentang
teknik-teknik konselingnya, namun teknik-teknik utama yang umum digunakan
adalah : desensitisasi sistematik, terapi implosive, latihan asertif, terapi
aversi, dan pengondisian operan.
Penjelasan
singkat beberapa teknik tersebut sebagai berikut ( Corey,2007; Willis,2004 :
Goldstain, 19973):
Desensitisasi
sistematik (systematic desensitization)Teknik
ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakan bahwa semua perilaku neurotic
adalah ekspresi dari kecemasan. Respon terhadap kecemasan itu dapat dieliminasi
dengan menemukan respon yang antagonistic. Perangsangan yang menimbulkan
kecemasan secara berulang-ulang disndingkan dengan keadaan relaksasi sehingga
hubungan antara rangsangan dengan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi.
Teknik ini bermaksud mengajar konseli untuk memberikan respon yang tidak
konsisten dengan kecemasan yang dialami konseli. Teknik ini tak dapat berjalan
tanpa teknik relaksasi. Dalam proses konseling, konselor diakjar untuk santai
dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman-pengalaman
yang mencemaskan, menggusarkan atau mengecewakan.
Situasi
yang dihadirkan disusun secara sistematis dari yang kurang mencemaskan hingga
yang palibng mencemaskan. Corey (2007) menjelaskan bahwa pelaksanaan teknik ini
dapat mengikuti prosedur berikut :
· Analisis
perilaku yang menimbulkan kecemasan
· Menyusun
hierarki atau jejaring – jejaring situasi yang menimbulakan kecemasan dari yang
kurang hingga yang paling mencemaskan konseli
· Memberi
latihan relaksasi otot-otot yang dimulai dari lengan hingga oto kaki. Kaki
konseli diletakan diatas bantal atau kain wol. Secara terinci relaksasi otot
dimulai dari lengan , kepala kemudian leher dan bahu, bagian belakang,perut dan
dada , dan kemudian anggota bagian bawah
· Konselin
diminta membayangkan situasi yang menyenangkan seperti dipantai, ditengah taman
yang hijau dan lain-lain.
· Konseli
disuruh memejamkan mata , kemudian disuruh membayangkan situasi yang kurang
mencemaskan. Bila konseli sanggup tanpa cemas atau gelisah,berarti situasi
tersebut dapat diatasi konseli. Demikian seterusnya hingga ke situasin yang
paling mencemaskan.
· Bila pada
suatu situasi konseli cemas dan gelisah, maka konselor memerintahkan konseli
agar membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan kecemasan
yang baru terjadi.
· Menyusun
hierarki atau jenjang kecemasan harus bersama konseli dan konselor menuliskanya
di kertas
2. Terapi implosif dan
pembanjiran
Teknik-teknik
pembanjiran berlandaskan paradigm mengenai penhapusan eksperimental. Teknik ini
terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa
pemberian penguatan. Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi
sistematik dalam arti bahwa pada teknik pembanjiran tidak menggunakan agen
pengondisisan baik maupun tingkatan kecemasan. Konselor memunculkan
stimulus-stimulus penghasil kecemasan, konseli membayangkan situasi, dan
konselor berusaha mempertahankan kecemasan konseli.
3. Latihan Asertif (
Asertive Learning)
Latihan
Asertif merupakan teknik dalam konseling perilaku yang menitikberatkan pada
kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam
menyatakannya. Sebagai contoh, ingin marah, tapi tetap berespon manis.
Assertive training adalah suatu teknik untuk membantu konseli dalam hal-hal
berikut:
· Tidak dapat
menyatakan kemarahannya atau kejengkelannya
· Mereka yang
sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari padanya
· Mereka yamg
mengalami kesulitan dalam berkata “tidak”
· Mereka yang
sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya.
· Mereka yang
merasakan tidak punya hak untuk menyataksi pendapat dan pikirannya
Ketika
menjalani kegiatan assertive training konselor berusaha memberikan keberanian
kepada konseli dalam mengatasi kesulitan terhadap oramg lain. Pelaksanaan
teknik ini ialah role playing( bermain peran ). Konselor , misalnya , berperan
sebagai atasan yang galak dan konseli sebagai bawahannya. Kemudian di balik,
konseli menjadi atasan yang galak dan konselor menjadi bawahan yamh mampu dan
berani mengatakan suatu kebenaran. Hal ini memang bertentangan dengan perilaku
konseli selama ini, dimana jika ia dimarahi atasa duam saja, walaupun dalam
batinnya ingin mengatakan bahwa ia benar.
4. Terapi Aversi
(Aversion therapy)
Teknik
ini bertujuan untuk menghukum perilaku konseli yang negative dan memperkuat
perilaku yang positif. Hukuman bisa dengan kejutan listrik, atau memberi ramuan
yang membuat orang muntah. Secara sederhana, anak yang suka marah dihukum
dengan mengabaikan atau membiarkannya, tanpa meresponnya. Perilaku maladjustive
diberi kejutan listrik, misalnya anak yang suka berkata berbohong. Perilaku
homoseksual dihukum dengan member pertunjukan film yang disenanginya lalu
dilistrik tangannya dan listriknya mati.
5. Pekerjaan Rumah ( home
– work )
Pekerjaan
rumah merupakan suatu kegiatan latihan bagi konseli yang kurang mampu
menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya ialah dengan member tugas
rumah untuk satu minggu. Misalnya tugas konseli adalah tidak menjawab jika
dimarahi ibu. Konseli menandai hari apa ia menjawab dan hari apa ia tak
menjawab.jika selama seminggu ia tak menjawab selama lima hari , berarti ia
diberi lagi tugas tambahan selama tujuh hari tak menjawab jika dimarahi.
Pekerjaan rumah terus diberiksn hingga tujuan konseling atau perbaikan perilaku
yang dikehendaki tercapai.